Sabtu, 05 Mei 2012

Ranukumbolo

Kalo beberapa waktu lalu gue nge post tentang perjalananku ke sempu, untuk kali ini gue akan bercerita perjalanan ke ranukumbolo..Yaa meskipun masih ada cerita cerita lain yang belum gue tulis seperti  camping ke pantai bajul mati saat pertama gue kuliah, kemudian dilanjutkan ke penanjakan bromo,ke  gua cino..Naik gunung mungkin suatu aktivitas yang "ehmmm"" sekali. Sensasinya itu loohh..Banyak hal yg gue dapet selama perjalanan dan saat berada di ranukumbolo..

Perjalanan ini sekitar bulan september 2011,tanggal 23-25. Perjalanan ini diikuti tetep dengan formasi yang pergi ke sempu, tapi hanya 8 orang yang ada waktu luang untuk melakukan perjalanan ini.Perjalanan di mulai pukul 01.00 dinihari, lewat daerah tumpang.  biarpun dinihari tapi semangat tetep 45.. perjalanan kira2-3 jam an, pokoknya sampek Ranupane itu subuh..dengan kondisi badan yang setengah ngantuk akhirnya sampek juga di awal perjalanan menuju ranukumbolo..

Okee singkat cerita, kita perjalanan ke ranukumbolo sekitar jam 8 pagi dan sampek TKP sekitar jam 12an..Yaa untuk pemula sih wajar waktu perjalanan segitu. Setelah itu kita segera bangun tenda dan segera membaringkan badan yang sudah remek (bahasa jawa). Waktu sudah sore dan suasana dingin sudah mulai terasa. 

Sampek malam menjelang pun suasana seperi di kutub saja ini.. kalo ada yang jual es paling wes gak laku. Gue sangat menikmati perjalanan ini dan juga perjalanan2 lainnya. perjalanan yang asiiik, menantang..Banyak hal yg gue dapat selama di sini, tentang bagaimana menghargai orang,menghargai alam,dan bagaimana sikap kita kpd tempat yg baru kita kenal..Terimakasih kepada temen2 yg udah memberikan pelajaran yg superrr(kayak Mario teguh aja)..

Mungkin itu aja sekelumit cerita gue,gue gak bisa berkata kata lagi,kalo cerita gak muat ini blog..selamat mencoba aja bagi yang mau kesana..Untuk sigit,heru,danang,aka,deni,efendi, beni (ijum) terimakasih atas perjalanan ini..mungkin di lain kesempatan kita bisa mengulangi ini..bisa untuk cerita anak cucu kita ..Da..da..da..ini gue upload foto2 di  Ranukumbolo..





Jumat, 04 Mei 2012

Pemeliharaan dan Perbaikan




1.1     Pengertian Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah suatu pekerjaan yang pada hakekatnya bertujuan untuk mendapatkan kepastian atau jaminan, bahwa sistem suatu peralatan yang dipelihara berfungsi secara oftimal dengan tingkat keandalan yang tinggi, sehingga mampu meningkatkan usia pemakaian peralatan secara teknis, dan mampu menjamin keselamatan kerja di lingkungannya.
Pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan dilihat dari jenis dan sifatnya dipisahkan dalam:
a.           Pemeliharaan rutin (Preventive maintenance)
Tujuannya untuk memeriksa proteksi secara visual untuk menemukan hal-hal yang dikhawatirkan sebelum periode berikutnya dapat menimbulkan gangguan, sehingga dapat diupayakan cara untuk mengatasinya.
b.           Pemeliharaan Sistematis
Tujuannya untuk menemukan kerusakan atau gejala kerusakan yang tidak ditemukan dalam pemeriksaan rutin kemudian dilakukan upaya mengatasinya.
c.          Pemeliharaan Korektif
Dimaksudkan untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh gangguan atau perubahan.
d.           Pemeliharaan darurat
Dimaksudkan untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana alam seperti angin ribut, banjir, kebakaran, gempa bumi.Biasanya pekerjaan ini sifatnya mendadak dan segera dilaksanakan.

Dalam melaksanakan suatu pemeliharaan, agar pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan tersebut mencapai tujuan, maka ada beberapa hal pokok yang harus dilakukan yaitu:
1)      Inventarisasi
2)      Perencanaan
3)      Pelaporan realisasi pemeliharaan
4)      Evaluasi pelaksanaan pemeliharaan
1.              Inventrisasi
          Kegiatan ini terdiri dari inventarisasi:
·         Fisik proteksi termasuk peralatannya
·         Pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan yang harus dilakukan
·         Material dan sarana penunjang pemeliharaan
·         Jumlah dan jenis tenaga pelaksana
2.        Perencanaan
Perencanaan pemeliharaan rutin dan pemeliharaan sistematis dapat direncanakan sebelumnya, dengan mengetahui jumlah fisik yang dipeliharanya dan periode dari masing-masing pemeliharaan.
Pekerjaan ini hendaknya direncanakan secara siklus sehingga untuk satu periode pemeliharaan, pemeliharaan rutin akan berulang kembali.
3.        Pelaporan Realisasi Pemeliharaan
Pelaksanaan pemeliharaan agar selalu dilakukan tepat waktu dan berhasil guna sesuai dengan rencana, oleh karena itu dari waktu ke waktu perlu dimonitor.
Monitoring ini baik dilakukan dari segi fisiknya maupun dari segi pembiayaannya.
Pembuatan Laporan Realisasi Pemeliharaan dilakukan melalui Formulir Pemeliharaan.
Laporan ini memuat proses pemeliharaan fisik baik rutin, sistematis, korektif maupun darurat.
4.        Evaluasi Hasil Pelaksanaan Pemeliharaan
Dengan telah dilaksanakannya pemeliharaan yang dilaporkan melalui Formulir Realisasi Pemeliharaan, maka langkah yang perlu dilakukan adalah mengadakan evaluasi pelaksanaan pekerjaan tersebut, sehingga akan dapat diperoleh informasi/kesimpulan tentang unjuk kerja peralatan terhadap rencana dan lain-lain.
Kegiatan-kegiatan tersebut di atas bergerak secara siklus, sehingga hasil evaluasi dari waktu sebelumnya menjadi bahan masukan yang berharga guna perencanaan pemeliharaan pemeliharaan berikuitnya.

1.2.       Pengertian Proteksi
Proteksi adalah suatu alat yang berfungsi utnuk memberi pengamanan terhadap peralatan system tenaga listrik, baik secara langsung maupun melalui peralatan bantu.
Adapun tujuan dipasang proteksi pada sistim tenaga listrik antara lain:
a.        Mencegah terjadinya kerusakan pada peralatan akibat adanya gangguan yang terjadi
b.        Melokalisir atau membatasi luas daerah yang terganggu seminimal mungkin
c.        Mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh arus listrik
d.       Memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada konsumen

1.3.       Persyaratan Proteksi
Yang termasuk pada persyaratan proteksi antara lain:
a.       Selektifitas
Artinya relai harus dapat memilih bagian-bagian mana yang harus diisolir pada saat terjadi gangguan.
Sedangkan untuk mendapatkan selektifitas, proteksi harus dapat membedakan antara keadaan yang memerlukan pemutusan segera atau dengan waktu tunda yang tidak memerlukan pemutusan, sehingga hanya bagian yang terkena gangguan saja yang dipisahkan.
Tingkat keandalan selektifitas dapat dicapai dengan dua cara, yaitu pembagian daerah pengamanan dan koordinasi pembagian setting waktu.
b.      Andal
Artinya kegagalan kerja relai dapat mengakibatkan bertambah luasnya daerah gangguan, sehingga untuk menanggulangi supaya tidak terjadi kegagalan dari kerja suatu relai, keberadaan pengaman harus benar-benar andal.
Pada keadaan normal relai pengaman tidak bekerja, dan harus bekerja terhadap setiap jenis gangguan yang terjadi.
Untuk mendapatkan tingkat keandalan ini, perlu diadakan pengujian-pengujian atau penyetaraan secara periodic, yang bertujuan untuk memperoleh data-data.
·         Apakah relai masih bekerja dengan baik
·         Apakah ada penyimpangan karakteristik, yang memerlukan penyetelan ulang dan membandingkan dengan kondisi yang lalu.
c.       Sensitifitas
Artinya relai pengaman harus cukup peka terhadap gangguan yang timbul sekecil mungkin.
d.      Cepat
Artinya relai pengaman harus dapat melepas gangguan dengan waktu cepat sehingga kerusakan peralatan dapat dihindari.
e.       Ekonomis
Artinya kita harus dapat mempertimbangkan antara harga peralatan dengan harga proteksi yang akan digunakan. Harga relai secara ekonomis harus lebih ringan bila dibandingkan dengan akibat yang terjadi bila timbul gangguan.


TEOREMA THEVENIN DAN SUPERPOSISI



Teorema Thevenin adalah salah satu teorema yang berguna untuk analisis sirkuit listrik. Teorema Thevenin menunjukkan bahwa keseluruhan jaringan listrik tertentu, kecuali beban, dapat diganti dengan sirkuit ekuivalen yang hanya mengandung sumber tegangan listrik independen dengan sebuah resistor yang terhubung secara seri, sedemikian hingga hubungan antara arus listrik dan tegangan pada beban tidak berubah. Sirkuit baru hasil dari aplikasi teorema Thevenin disebut dengan sirkuit ekuivalen Thevenin. Teorema ini dinamakan sesuai dengan penemunya, seorang insinyur berkebangsaan Perancis, M. L. Thévenin.
Ditentukan sebuah jaringan listrik seperti pada gambar dan bagian dalam kotak hitam yang akan dicari sirkuit ekuivalennya; nilai sumber tegangan Vth pada sirkuit ekuivalen Thevenin didapatkan dengan melepaskan resistor beban di antara terminal A dan B lalu dihitung besar tegangan sirkuit terbuka di antara kedua terminal tersebut. Sedangkan nilai resistor pengganti Rth dapat dihitung dengan mematikan semua sumber tegangan dan arus lalu dihitung nilai ekuivalen resistansi di antara terminal A dan B.
Penggunaan utama dari teorema Thevenin adalah menyederhanakan sebagian besar dari sirkuit dengan sirkuit ekuivalen yang sederhana.Teorema thevenin menyatakan sebagai berikut :setiap rangkaian sumber-sumber dan impedansi-impedansi dapat diganti dengan satu sumber tegangan satu impedansi seri dengan sumber itu. Dimana sumber tegangan tersebut
sama dengan tegangan pada jepitan-jepitan terbuka dari rangkaian dan impedansi itu sama dengan impedansi yang di ukur antara jepitan-jepitan terbuka dari rangkaian dengan semua sumber-sumber dalam rangkaian tidak bekerja, yaitu sumber tegangan di hubung singkat, sumber arus terbuka.
Untuk membuat rangkaian pengganti tersebut, maka terdapat dua aturan yang digunakan untuk mencari tegangan dan hambatan pengganti.
Aturan I : tegangan pengganti adalah hambatan yang terdapat pada titik-titik yang dikehendaki dengan beban dianggaptidak ada atau merupakan rangkaian terbuka (open circuit)
Aturan II : hambatan pengganti adalah hambatan yang terjadi pada titik-titik rangkaian dengan sumber tegangan diaggap sebagai rangkaian tertutup (close crcuit) dan sumber arus dianggap sebagai rangkaian terbuka (open circuit)

Teorema superposisi

Teorema superposisi berlaku untuk semua rangkaian linir dan bilateral, jadi berlaku juga untuk semua rangkaian-rangkaian yang terdiri dari R,L, dan C asal saja elemen-elemen ini linear dan bilateral. Suatu elemen
dikatakan linear bila antara tegangan pada elemen itu dan arus yang disebabkan oleh tegangan tersebut mempunyai hubungan yang linier bila di hubungkan pada elemen itu. Dan dikatakn bilateral bila arus atau tegangan akan mengalir pada sama besar untuk kedua arah.
Teorema superposisi menyatakan sebagai berikut :bila suatu rangkaian terdiri dari lebih dari satu sumber dan tahanan-tahanan atau impedansi-impedansi linear dan bilateral, dari arus-arus yang disebabkan oleh tiap-tiap sumber tersendiri dengan sumber-sumber lainnya dalam keadaan tidak bekerja.
Untuk menggunakan teorema tersebut ada dua aturan yang dapat digunakan, sehingga diperoleh besaran yang diinginkan. Aturan-aturan tersebut adalah sebagai berikut :
Aturan 1 : suatu sumber yang tidak bekerja memiliki tegangan nol. Ini berarti dapat diganti dengan suatu hubungan singkat (cloced circuit).
Aturan 2 : suatu sumber yang tidak bekerja dan memiliki arus nol berarti dapat diganti dengan suatu hubungan terbuka (open circuit).



Relay Jarak / Distance Relay


            Relay Jarak merupakan proteksi utama pada penghantar transmisi baik tegangan 150 kV maupun 500 kV. rele ini bkerja dengan cara mengukur tegangan dan arus pada penghantar kemudian menghitung impedansinya. Impedansi hasil perhitungan rele kemudian di bandingkan dengan settingnya. apabila hasil perhitungan impedansi lebih kecil dari nilai setting maka rele akan memberi perintah lepas (trip) kepada PMT.

           Daerah proteksi rle dibagi dalam bentuk zona. Pada umumnya daerah proteksi dibagi menjadi 3 zona, yaitu :
1)Zona-1
   Daerah pengamanan sebesar 80-85% dari impedansi segmen yang di proteksi (ZL1)
2)Zona-2
   Zone-2 minimum adalah 120 % ZL1, sedangkan Zone-2 maksimun harus menjangkau 80% jaringan didepan yang paling pendek Z2 maks = 80%(ZL1 + 80% ZL2), tetapi tidak boleh melebihi 50% Impedansi Trafo tenaga yang ada di gardu induk depan (GI B) seperti pada gambar 2a, karena zone-2 harus berfungsi sebagai pengaman cadangan zone-1, baikdidaerah pengamanannya maupun pada jaringan didepannya.
Zone-2 min = 1,2 . ZL1
Zone-2 mak1 = 0,8 (Z L1 + 0,8. ZLY)
Zone-2 mak2 = Z L1 + 0,5. XtB
Jika jangkauan zone-2 minimum lebih besar dari zone-2 maksimum, maka setelan impedansi zone-2 diprioritaskan menggunakan nilai Z2 minimum, tetapi waktu kerja zone-2 (t2A) dinaikkan, dimana waktu tunda zone-2 (t2A) lebih besar dari waktu zone-2 didepan (t2B). Hal ini untuk memberi kesempatan kepada zone-2 distance relai di depan bekerja lebih dulu.

3)Zona-3 
Zone-3 minimum harus menjangkau 2 GI didepannya yang terjauh, maka Z3min =  1.2x( ZL1+ ZLx ) , tetapi tidak boleh melebihi 50% impedansi Trafo tenaga yang ada    di gardu induk depan    ( GI B ). Sehingga zone-3 berfungsi juga sebagai pengaman cadangan zone-2, baik didaerah pengamanannya maupun pada jaringan didepannya.
Zone-3.min = 1.2 ( ZL1 + ZLx)
Zone-3.mak = 0,8 (Z L1 + 0,5. XtB)

Skema proteksi yang lazim diguanakan adalah sebagai berikut :
Basic
Skema proteksi Basic membagi daerah proteksi rele jarak menjadi tiga tanpa komunikasi dengan GI di depannya. Skema ini memliki kelemahan, karena segmen yang diproteksi (ZL1) hanya terproteksi sebesar (80-85%) sedangkan sisanya di preotekdi dengan Zona-2, sehingga apabila terjadi gangguan yang terletak < 15% maka gangguan tidak segera diisolasi, namun menunggu setelah setelah 0.4-0.8 detik tergantung setelan waktu Zona-2 karena rele di GI depan merasakan gangguan berada di Zona-2. Hal ini bisa saja menyebakan sistem menjadi tidak stabil.






Macam macam Relay


Relay Arus lebih
Relay arus lebih adalah relay yang bekerja terhadap arus lebih, ia akan bekerja bila arus yang mengalir melebihi nilai settingnya (I set)
Prinsip Kerja
Pada dasarnya relay arus lebih adalah suatu alat yang mendeteksi besaran arus yang melalui suatu jaringan dengan bantuan trafo arus. Harga atau besaran yang boleh melewatinya disebut dengan setting.
Macam-macam karakteristik relay arus lebih :
a. Relay waktu seketika (Instantaneous relay)
b. Relay arus lebih waktu tertentu (Definite time relay)
c. Relay arus lebih waktu terbalik (Inverse Relay)

Relay Waktu Seketika (Instantaneous relay)
Relay yang bekerja seketika (tanpa waktu tunda) ketika arus yang mengalir melebihi nilai settingnya, relay akan bekerja dalam waktu beberapa mili detik (10 – 20 ms). Dapat kita lihat pada gambar dibawah ini.
Relay ini jarang berdiri sendiri tetapi umumnya dikombinasikan dengan relay arus lebih dengan karakteristik yang lain.

Relay arus lebih waktu tertentu (definite time relay)
Relay ini akan memberikan perintah pada PMT pada saat terjadi gangguan hubung singkat dan besarnya arus gangguan melampaui settingnya (Is), dan jangka waktu kerja relay mulai pick up sampai kerja relay diperpanjang dengan waktu tertentu tidak tergantung besarnya arus yang mengerjakan relay, lihat gambar dibawah ini.

Relay arus lebih waktu terbalik
Relay ini akan bekerja dengan waktu tunda yang tergantung dari besarnya arus secara terbalik (inverse time), makin besar arus makin kecil waktu tundanya. Karakteristik ini bermacam-macam dan setiap pabrik dapat membuat karakteristik yang berbeda-beda, karakteristik waktunya dibedakan dalam tiga kelompok :
• Standar invers
• Very inverse
• Extreemely inverse

Pengaman Pada Relay Arus Lebih
Pada relay arus lebih memiliki 2 jenis pengamanan yang berbeda antara lain:
•Pengamanan hubung singkat fasa. Relay mendeteksi arus fasa. Oleh karena itu, disebut pula “Relay fasa”. Karena pada relay tersebut dialiri oleh arus fasa, maka settingnya (Is) harus lebih besar dari arus beban maksimum. Ditetapkan Is = 1,2 x In (In = arus nominal peralatan terlemah).
•Pengamanan hubung tanah. Arus gangguan satu fasa tanah ada kemungkinan lebih kecil dari arus beban, ini disebabkan karena salah satu atau dari kedua hal berikut:
Gangguan tanah ini melalui tahanan gangguan yang masih cukup tinggi. Pentanahan netral sistemnya melalui impedansi/tahanan yang tinggi, atau bahkan tidak ditanahkan Dalam hal demikian, relay pengaman hubung singkat (relay fasa) tidak dapat mendeteksi gangguan tanah tersebut. Supaya relay sensitive terhadap gangguan tersebut dan tidak salah kerja oleh arus beban, maka relay dipasang tidak pada kawat fasa melainkan kawat netral pada sekunder trafo arusnya. Dengan demikian relay ini dialiri oleh arus netralnya, berdasarkan komponen simetrisnya arus netral adalah jumlah dari arus ketiga fasanya. Arus urutan nol dirangkaian primernya baru dapat mengalir jika terdapat jalan kembali melalui tanah (melalui kawat netral)

Relay Arus Lebih Penghantar
Prinsip kerja relai arus lebih penghantar adalah berdasarkan pengukuran arus, yaitu relai akan bekerja apabila merasakan arus diatas nilai settingnya.Relai arus lebih diset lebih besar dari kemampuan arus nominal peralatan yang terkecil (110 – 120% dari nominal), namun harus dipastikan bahwa setting arus relai masih tetap bekerja pada arus hubung singkat 2 fasa minimum.Waktu kerja relai arus lebih diset +/- 1 (satu) detik pada arus hubung singkat 2 fasa maksimum di lokal bus.
Relai ini digunakan untuk mendeteksi gangguan fasa – fasa, mempunyai karakteristik inverse (waktu kerja relai akan semakin cepat apabila arus gangguan yang dirasakannya semakin besar) atau definite (waktu kerja tetap untuk setiap besaran gangguan).Selain itu pada relai arus lebih tersedia fungsi high set yang bekerja seketika (moment/instantaneous).
Untuk karakteristik inverse mengacu kepada standar IEC atau ANSI/IEEE. Relai ini digunakan sebagai proteksi cadangan karena tidak dapat menentukan titik gangguan secara tepat, dan juga ditujukan untuk keamanan peralatan apabila proteksi utama gagal kerja.
Agar dapat dikoordinasikan dengan baik terhadap relai arus lebih disisi yang lain (bukan relai arus lebih yang terpasang di penghantar), maka karakteristik untuk proteksi penghantar yang dipilih adalah kurva yang sama yaitu standard inverse (IEC) / normal inverse (ANSI/IEEE). Untuk selektifitas dengan proteksi utama fungsi high set tidak diaktifkan.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP

PLTGU adalah sebuah pembangkitan listrik dimana prosesnya terdiri dari dua yaitu proses dengan menggunakan Turbin Gas dan Turbin Uap. Biaya produksi dari PLTGU apabila menggunakan bahan bakar yang sama maka akan lebih murah biayanya apabila dibandingkan hanya dengan Turbin Gas saja.

Komponen-komponen inti peralatan dari PLTGU adalah:
1. Turbin Gas Plant
    Yang terdiri atas Compressor, Combustor Chamber, Turbin Gas, Generator.
2. Heat Recovery Steam Generator ( HRSG )
3. Steam Turbin Plant
    Yang terdiri atas HP & LP Turbin, Condensor dan Generator.

Proses Produksi Listrik
      Adapun proses produksinya terdiri atas dua yitu dengan menggunakan Turbin Gas Saja yang sering disebut dengan proses Open Cycle ( O/C ) dan dengan menggunakan Turbin Gas dan Turbin Uap yang sering disebut dengan Combine Cycle ( C/C ) dan inilah prinsip PLTGU.

      Prinsip kerjanya yaitu dalam suatu proses pembakaran harus membutuhkan tiga hal yaitu Bahan Bakar, Udara dan Api. Udara luar dimasukkan ke kompressor untuk dikompresi sehingga tekanannya akan meningkat, udara yang telah dikompresi ini kemudian dimasukkan ke combustion chamber ( ruang bakar ), didalam ruang bakar terdapat prinsip segitiga api, dimana akan ada proses pembakaran udara oleh bahan bakar berupa fuel oil (HSD/high speed diesel) setelah dipicu oleh alat pemicu (igniter) sehingga akan menghasilkan gas yang bertekanan tinggi. Gas hasil pembakaran ini kemudian dialirkan ke turbin untuk menggerakkan sudu-sudu dari turbin.
      Karena turbin berada pada satu poros dengan generator maka ketika turbin berputar secara otomatis generator juga akan berputar dan akan merubah energi mekanik yang dihasilkan oleh turbin menjadi energi listrik. Gas buang dari sebuah operasi PLTG yang masih mempunyai temperature tinggi dimanfaatkan kembali untuk menguapkan air pada HRSG (heat recovery steam generator). Air kondensat dari condenser dialirkan ke pre heater sebagai proses pemanasan awal.
      Dari pre heater air akan dialirkan ke dalam deaerator, fungsi dari deaerator ini adalah untuk menghilangkan kandungan O2 dalam air dengan cara diinjeksi dengan hidrazin (N2H4). Air yang keluar dari deaerator dibagi menjadi dua aliran yaitu untuk aliran low pressure (LP) dan high pressure (HP).  Untuk LP, air dari deaerator dimasukkan ke dalam LP economizer untuk dipanaskan lebih lanjut, kemudian air akan dialirkan ke LP drum untuk memisahkan antara air dan uap yang telah terbentuk. Dari LP drum air akan dimasukkan ke dalam LP evaporator untuk proses penguapan air. Air yang keluar dari evaporator telah menguap, uap LP ini kemudian dialirkan ke LP steam turbin. Sedangkan untuk HP, air dari deaerator akan dialirkan kedalam HP economizer 1 dan HP economizer 2, dari HP economizer 2 air kemudian dialirkan ke HP drum.
       Dari HP drum air diuapkan di dalam HP evaporator. Uap yang telah terbentuk di dalam evaporator kemudian dialirkan ke HP Superheater 1 dan 2, fungsinya adalah memanaskan kembali uap yang telah terbentuk menjadi uap superheated (uap kering). Uap superheated ini kemudian dialirkan ke HP steam turbine,untuk memutar sudu-sudu turbin. Uap bekas dari HP steam turbine kemudian dialirkan ke LP steam turbin dan bersama-sama dengan LP Steam akan memutar LP Steam Turbin. Seperti pada GT, turbin pada ST juga dikopel dengan generator sehingga ketika turbin berputar maka secara otomatis generator juga akan berputar dan akan merubah energi mekanik dari turbin menjadi energi listrik. Uap bekas dari LP steam turbin kemudian dialirkan ke condenser untuk dikondensasikan menjadi air dan akan dimasukkan kembali ke HRSG.




Rabu, 02 Mei 2012

Perancangan Instalasi Listrik

Dikutip dari PUIL 2000 ada persyaratan untuk perancangan instalasi listrik. rancangan instalasi listrik meliputi:


a) Gambar situasi, yang menunjukkan dengan jelas letak gedung atau bangunan tempat
     instalasi tersebut akan dipasang dan rancangan penyambungannya dengan sumber
     tenaga listrik.
b) Gambar instalasi yang meliputi:
    1) Rancangan tata letak yang menunjukkan dengan jelas letak perlengkapan listrik
        beserta sarana kendalinya (pelayanannya), seperti titik lampu, kotak kontak, sakelar,
        motor listrik, PHB dan lain-lain.
    2) Rancangan hubungan perlengkapan listrik dengan gawai pengendalinya seperti
        hubungan lampu dengan sakelarnya, motor dengan pengasutnya, dan dengan gawai
        pengatur kecepatannya, yang merupakan bagian dari sirkit akhir atau cabang sirkit
        akhir.
    3) Gambar hubungan antara bagian sirkit akhir tersebut dalam butir b) dan PHB yang
        bersangkutan, ataupun pemberian tanda dan keterangan yang jelas mengenai
        hubungan tersebut.
    4) Tanda ataupun keterangan yang jelas mengenai setiap perlengkapan listrik.
c) Diagram garis tunggal, yang meliputi :
    1)Diagram PHB lengkap dengan keterangan mengenai ukuran dan besaran pengenal
       komponennya
    2) Keterangan mengenai jenis dan besar beban yang terpasang dan pembagiannya;
    3) Sistem pembumian dengan mengacu kepada 3.18;
    4) Ukuran dan jenis penghantar yang dipakai.
d) Gambar rinci yang meliputi :
     1) Perkiraan ukuran fisik PHB;
     2) Cara pemasangan perlengkapan listrik;
     3) Cara pemasangan kabel;
     4) Cara kerja instalasi kendali.
e) Perhitungan teknis bila dianggap perlu, yang meliputi antara lain :
     1) Susut tegangan;
     2) Perbaikan faktor daya;
     3) Beban terpasang dan kebutuhan maksimum;
     4) Arus hubung pendek dan daya hubung pendek;
     5) Tingkat penerangan.
f) Tabel bahan instalasi, yang meliputi :
     1) Jumlah dan jenis kabel, penghantar dan perlengkapan;
     2) Jumlah dan jenis perlengkapan bantu;
     3) Jumlah dan jenis PHB;
     4) Jumlah dan jenis luminer lampu.
g) Uraian teknis, yang meliputi :
     1) Ketentuan tentang sistem proteksi dengan mengacu kepada 3.17;
     2) Ketentuan teknis perlengkapan listrik yang dipasang dan cara pemasangannya;
     3) Cara pengujian;
     4) Jadwal waktu pelaksanaan.
h) Perkiraan biaya